Waspada! Penyakit Akibat Air Kotor Masih Mengintai - MPOIN

Waspada! Penyakit Akibat Air Kotor Masih Mengintai

Jika ditanya mengenai air yang berkualitas, sering kali kita hanya bersandar pada satu faktor, yaitu jernih. Padahal, meski terlihat jernih dan tidak berbau, itu bukan jaminan bahwa air tersebut bersih dan berkualitas. Karena bisa saja air tersebut mengandung mikroorganisme patogen atau zat berbahaya yang tidak terlihat oleh mata.

Menurut World Health Organization, penyakit yang ditularkan melalui air (waterborne diseases) masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan kesehatan di negara berkembang. Masalahnya bukan hanya soal akses air, tetapi juga kualitas dan sistem sanitasi yang mengelilinginya.

Di Indonesia, isu ini masih sangat relevan. Data dari UNICEF menunjukkan bahwa sebagian sumber air rumah tangga masih berisiko terkontaminasi limbah, termasuk bakteri fekal. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga secara berkala melaporkan kasus diare, tifoid, dan hepatitis A yang kerap kali muncul di berbagai wilayah dengan sanitasi kurang memadai. Ini artinya, ancaman penyakit akibat air kotor bukan sekadar teori. Ia nyata dan bisa terjadi di lingkungan rumah kita.

Baca Juga: Manfaat Journaling: Cara Hidup Lebih Tenang dan Teratur

Penyakit yang Sering Disebabkan oleh Air Kotor

Berikut beberapa penyakit yang paling umum terjadi dan berkaitan dengan air tercemar:

Diare

Diare merupakan penyakit paling sering terjadi akibat konsumsi air yang terkontaminasi bakteri seperti E. coli. Penularan terjadi melalui jalur fekal-oral ketika air atau makanan terpapar limbah kotoran manusia atau hewan. Pada anak-anak, diare dapat menyebabkan dehidrasi berat dan menjadi kondisi yang berbahaya jika tidak ditangani dengan cepat.

Tifoid (Tipes)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang dapat menyebar melalui air minum yang tidak higienis. Sumur yang terlalu dekat dengan septic tank, atau sistem pembuangan yang bocor, sering menjadi sumber kontaminasi.

Hepatitis A

Virus hepatitis A dapat menyebar melalui konsumsi air yang tercemar. Gejalanya meliputi demam, mual, nyeri perut, hingga kulit menguning. Hepatitis A sering kali dikaitkan dengan sanitasi lingkungan yang buruk.

Kolera

Meskipun tidak selalu terjadi setiap tahun, kolera atau infeksi usus kecil akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae tetap menjadi ancaman di wilayah dengan sanitasi rendah. Penyakit ini menyebabkan diare berat dan kehilangan cairan secara cepat.

Infeksi Kulit dan Mata

Air mandi yang terkontaminasi bakteri atau jamur juga dapat menyebabkan gatal-gatal, ruam, hingga iritasi mata. Ini sering dianggap sepele karena dirasa air tidak memiliki kaitan dengan apa yang terjadi. Padahal ini bisa menjadi indikator kualitas air yang menurun.

Siapa yang Paling Rentan Terkena Penyakit Akibat Air Kotor?

Pada dasarnya, siapa pun dapat terdampak oleh air yang tercemar. Namun, terdapat kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

Di kelompok pertama, anak-anak merupakan kelompok paling rentan. Ini disebabkan sistem imun mereka belum berkembang sempurna. Sehingga penyakit seperti diare akibat air kotor yang terjadi pada mereka dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi berat.

Di kelompok kedua, ada lansia. Kelompok ini juga lebih berisiko karena daya tahan tubuh yang menurun, sehingga infeksi ringan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Sementara di kelompok terakhir ada Ibu hamil dan individu dengan penyakit kronis atau gangguan imun. Kelompok ini perlu lebih waspada, karena paparan bakteri atau virus dari air dapat memperparah kondisi kesehatan yang sudah ada.

Yang perlu digaris bawahi, risiko ini tidak hanya terjadi di daerah dengan sanitasi buruk. Rumah tangga di perkotaan pun bisa terdampak jika sistem pengelolaan air tidak diperhatikan dengan baik.

Baca Juga: Tanda Anak Dehidrasi dan Cara Memenuhi Kebutuhan Air Hariannya

Bagaimana Mencegah Penyakit Akibat Air Kotor?

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah hal ini terjadi. Pencegahan bisa dimulai dari kesadaran bahwa air bersih adalah hasil dari sistem yang terjaga, bukan hanya dari sumbernya. Beberapa langkah lain yang dapat dilakukan adalah:

  • Memastikan jarak sumur dan septic tank sesuai standar sanitasi.
  • Menggunakan air matang atau sistem filtrasi untuk air minum.
  • Rutin membersihkan tangki air dan saluran distribusi.
  • Memastikan tangki air tertutup rapat dan terlindungi dari paparan langsung sinar matahari.

Air Bersih Bukan Hanya Soal Sumber, Tapi Soal Sistemnya

Ketika membahas penyakit akibat air kotor, banyak orang langsung menyalahkan sumber air. Padahal, kualitas air yang kita gunakan ditentukan oleh satu sistem utuh, mulai dari sumber, distribusi, hingga penyimpanan.

Air yang awalnya layak, bisa menurun kualitasnya jika disimpan dalam tangki yang tidak terlindungi dengan baik. Karena itu, mencegah penyakit seperti diare, tifoid, dan hepatitis A tidak cukup dengan memastikan air terlihat jernih. Tapi juga memastikan sistem penyimpanan air dirancang untuk menjaga kualitas air tetap stabil dari waktu ke waktu.

Seperti tandon atau tangki air MPOIN yang dibuat dengan material ramah lingkungan dan aman untuk penyimpanan air konsumsi. Dilengkapi teknologi anti-UV, anti lumut dan anti mikroba, yang menjaga kebersihan air selama proses penyimpanan, sehingga risiko kontaminasi dapat diminimalkan.

Kekuatan struktur hingga 10x lebih kokoh memberikan ketahanan ekstra terhadap tekanan dan perubahan cuaca, menjadikannya solusi yang stabil untuk kebutuhan rumah tangga. Bahkan, komitmen terhadap kualitas tersebut diperkuat dengan garansi hingga 50 tahun, sebagai bentuk kepercayaan terhadap ketahanan dan performa produk dalam jangka panjang. Karena pada akhirnya, air bersih bukan hanya soal ketersediaan, tetapi tentang bagaimana sistemnya mampu menjaga kualitas setiap hari.

Baca Juga: Code Mixing di Era Digital

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *