Boleh Tidak Buang Air Kecil di Floor Drain? Ini Penjelasan Sistem Sanitasi Rumah - MPOIN

Boleh Tidak Buang Air Kecil di Floor Drain? Ini Penjelasan Sistem Sanitasi Rumah

Saat hendak buang air kecil di kamar mandi, sebagian orang masih banyak yang melakukan buang air kecil di area shower atau floor drain. Praktik ini memang terkesan lebih simpel, apalagi jika dilakukan saat mandi. Tidak sedikit pula yang menganggapnya lebih hemat air karena tidak perlu toilet flush terpisah.

Namun, jika dilihat dari sudut pandang sistem sanitasi bangunan, kebiasaan ini tidak sesederhana yang terlihat. Jika terus dilakukan dan diabaikan, hal ini bisa memengaruhi keseimbangan sistem pembuangan dalam jangka panjang.

Apa Sebenarnya Fungsi Floor Drain?

Floor drain adalah lubang pembuangan air yang biasanya ada di lantai kamar mandi. Fungsinya untuk mengalirkan air sisa mandi, air pel, atau cipratan air supaya tidak menggenang. Di bawahnya terdapat bagian pipa yang berbentuk lengkungan, yang sering disebut dengan P-trap. Bentuknya seperti huruf “U”. 

Bagian ini selalu menyimpan sedikit air di dalam lengkungan, yang sebenarnya punya fungsi penting yaitu menjadi penghalang agar bau dan gas dari saluran pembuangan tidak naik kembali ke kamar mandi.

Jika bagian tersebut kering atau tidak terisi air, bau dari septic tank bisa naik ke ruangan. Itulah sebabnya floor drain sebenarnya dirancang untuk mengalirkan air bilasan, bukan untuk menerima limbah seperti urine secara rutin. Itulah alasan toilet memiliki sistem flush khusus untuk memastikan limbah terdorong dengan air yang cukup, sementara floor drain tidak.

Baca Juga: Rumah Tiba-Tiba Bau, Ini Penyebab Dan Solusinya

Apa yang Terjadi Jika Urine Masuk ke Floor Drain?

Urine sendiri mengandung senyawa urea, amonia, serta nitrogen lainnya. Ketika bercampur dengan bakteri di saluran pembuangan, urea akan diurai oleh enzim urease dan menjadi amonia. Proses inilah yang memicu urine menimbulkan bau pesing menyengat.

Jika dilakukan berulang dan tidak disiram dengan air yang cukup banyak, sisa urine bisa menempel di dinding pipa. Lama-kelamaan terbentuk lapisan kotoran tipis yang menjadi tempat bakteri berkembang. Inilah yang membuat bau tetap muncul, meskipun lantai kamar mandi terlihat bersih dan sudah disikat.

Masalah bisa bertambah jika kamar mandi jarang dipakai dan P-Trap dalam keadaan mengering. Bau akibat urine yang menempel pada pipa dan bau dari saluran bisa naik ke kamar mandi. Itulah sebabnya ada kamar mandi yang tampak bersih, tetapi tetap berbau tidak sedap. Sumbernya bukan di lantai, melainkan di dalam sistem pembuangannya.

Dampaknya ke Lingkungan

Di Indonesia, limbah dari floor drain nyatanya tidak masuk ke dalam spetci tank, melainkan langsung mengalir ke selokan atau drainase lingkungan.

Artinya, jika urine dibuang melalui floor drain, campurannya tidak melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Ia ikut mengalir bersama air sabun dan sisa mandi menuju saluran terbuka di sekitar rumah.

Dalam jumlah kecil, mungkin dampaknya tidak langsung terlihat. Tetapi dalam jangka panjang, penumpukan zat tertentu seperti nitrogen dapat memengaruhi kualitas air di selokan, sungai kecil, atau tanah resapan di sekitarnya. Air yang seharusnya kembali ke alam dalam kondisi lebih aman justru membawa beban tambahan.

Inilah mengapa sanitasi rumah sebenarnya bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan bersama. Karena apa yang kita lakukan di dalam kamar mandi pada akhirnya tetap akan kembali ke luar rumah.

Baca Juga: Tipe Tangki Air Rumah Yang Wajib Kamu Ketahui

Sanitasi Rumah Dimulai dari Hulu

Pada akhirnya, kebiasaan buang air kecil di floor drain bukan hanya soal praktis atau tidak. Secara desain, floor drain memang dibuat untuk mengalirkan air limpasan, bukan untuk menerima limbah secara rutin. Jika dilakukan terus-menerus tanpa bilasan yang cukup, risikonya bisa muncul dalam bentuk bau, gangguan aliran, bahkan potensi dampak lingkungan karena air kamar mandi di banyak rumah langsung mengalir ke drainase.

Sanitasi rumah bekerja sebagai satu sistem yang saling terhubung. Air disimpan, dialirkan, digunakan, lalu dibuang kembali ke lingkungan. Jika kualitas atau volumenya tidak stabil, proses pembilasan menjadi kurang optimal dan residu lebih mudah tertinggal di saluran.

Karena itu, menjaga sistem sanitasi tidak cukup hanya dari bagian hilir seperti septic tank atau pipa. Ia harus dimulai dari hulu, yaitu dari tempat air bersih disimpan.

Dengan tangki air MPOIN, yang dirancang dengan material food grade, perlindungan anti-UV dan anti lumut, serta struktur yang 10x lebih kuat, kualitas air dapat lebih terjaga sejak awal penyimpanan. Sehingga air yang dialirkan ke kamar mandi tetap bersih dan stabil.Dengan air yang lebih terjaga kualitasnya, proses pembilasan menjadi lebih optimal dan risiko residu pada floor drain pun dapat diminimalkan. Ditambah dengan garansi hingga 50 tahun, tangki air MPOIN bukan hanya sekadar wadah, tetapi juga bagian penting dari sistem sanitasi jangka panjang rumah.

Baca Juga: Sudah Minum Kopi Kok Tetap Ngantuk? Mungkin Ini Penyebabnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *