thumbnail web 13 10 (3)

Air Refill di Kampus Bisa Jadi Bahaya

Air minum adalah kebutuhan utama setiap orang, termasuk mahasiswa yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kampus. Demi mendukung gaya hidup sehat sekaligus mengurangi limbah plastik, banyak kampus di Indonesia kini menyediakan fasilitas water refill station atau drinking fountain. Mahasiswa bisa dengan mudah mengisi ulang tumbler mereka tanpa harus membeli air kemasan. Praktis, ramah lingkungan, dan tentu saja lebih hemat.

Namun, dibalik keunggulannya, ada resiko tersembunyi yang tidak boleh diabaikan mahasiswa: kualitas air yang bisa menurun apabila tangki penyimpanan maupun instalasi airnya tidak higienis. Meski belum banyak kasus besar di Indonesia yang diberitakan secara terbuka, penelitian menunjukkan adanya potensi kontaminasi bakteri dalam air minum isi ulang bila tidak dikelola dengan baik.

image
Sumber: WKBN.com

Air minum isi ulang, termasuk yang disediakan kampus, biasanya melalui proses penyaringan modern seperti Reverse Osmosis (RO), UV Sterilizer, atau ozonisasi. Secara teori, air tersebut aman diminum. Tetapi, air yang sudah diproses tetap bisa kembali terkontaminasi apabila:

  1. Tangki air tidak higienis: lumut, kotoran, dan bakteri bisa tumbuh jika tangki terbuka atau jarang dibersihkan.
  2. Filter tidak diganti tepat waktu: filter yang sudah jenuh malah bisa menjadi sarang bakteri.
  3. Pipa distribusi kotor: meski sumbernya bersih, jalur distribusi yang tidak higienis bisa merusak kualitas air.
  4. Area sekitar refill station kurang terjaga: percikan air, debu, bahkan serangga bisa mempengaruhi kebersihan instalasi.

Dalam penelitian di IPB, air minum isi ulang yang tidak disimpan dengan baik dapat mengandung bakteri indikator seperti E. coli. Bayangkan jika hal ini terjadi di fasilitas kampus, mahasiswa bisa mengalami gangguan pencernaan, keracunan ringan, bahkan penyakit serius.

Kunci utama dari kualitas air refill bukan hanya teknologi filtrasinya, melainkan tangki penyimpanan air. Tangki berfungsi sebagai tempat transit sebelum air dialirkan ke dispenser atau refill station. Jika tangkinya kotor, maka hasil akhirnya juga akan ikut tercemar.

Tangki air higienis memiliki beberapa keunggulan:

  • Tertutup rapat untuk mencegah debu, serangga, dan kotoran masuk.
  • Anti lumut dan bakteri berkat material yang food grade.
  • Sirkulasi dan drainase mudah sehingga tidak ada air menggenang.
  • Perawatan lebih mudah sehingga bisa dibersihkan secara rutin tanpa perlu menguras manual.

Dengan tangki yang higienis, kampus bisa memastikan air yang sudah difilter tetap terjaga kualitasnya sampai ke tangan mahasiswa.

Fasilitas air langsung minum di kampus sejatinya adalah langkah bagus menuju green campus. Mahasiswa tidak perlu lagi membeli air kemasan sekali pakai. Tetapi, komitmen ramah lingkungan ini harus berjalan seiring dengan komitmen kesehatan. Tidak ada gunanya menyediakan refill station kalau air yang keluar justru merugikan.

Oleh karena itu, kampus perlu bekerja sama dengan penyedia tangki air higienis yang modern. Dengan begitu, selain mengurangi sampah plastik, mereka juga bisa memberikan jaminan kesehatan pada ribuan mahasiswa yang setiap hari mengandalkan fasilitas tersebut.

Kampus dengan water refill station adalah bukti kemajuan dalam menyediakan lingkungan belajar yang sehat dan ramah lingkungan. Tetapi, fasilitas ini hanya akan benar-benar bermanfaat jika kualitas airnya terjaga dari hulu ke hilir. Tangki air higienis menjadi salah satu komponen penting yang sering dilupakan, padahal justru di sanalah kualitas air ditentukan.

Jadi, ketika kampus memasang air langsung minum, pertanyaan berikutnya bukan sekadar, “Apakah ada refill station di sini?” melainkan juga, “Apakah tangki airnya sudah higienis dan aman untuk ribuan mahasiswa?”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *