Status aktivitas Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat dilaporkan meningkat menjadi Level II (Waspada) setelah pemantauan Badan Geologi menunjukkan adanya peningkatan aktivitas seismik di kawasan gunung tersebut. Masyarakat dan pengunjung juga diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius sekitar tiga kilometer dari pusat kawah sebagai langkah mitigasi risiko.
Gunung Tambora sendiri merupakan salah satu gunung berapi aktif di Indonesia yang pernah mengalami letusan besar pada tahun 1815. Letusan tersebut dikenal dengan Year Without a Summer. Peristiwa tersebut juga merupakan salah satu letusan vulkanik terbesar dalam sejarah modern dan bahkan memengaruhi kondisi iklim global pada masanya.
Informasi mengenai aktivitas gunung berapi seperti Tambora bukan hanya menjadi kabar tentang dinamika alam. Tapi juga menjadi pengingat penting tentang perlunya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menyiapkan survival bag.
Survival Bag untuk Situasi Bencana
Survival bag adalah tas yang berisi perlengkapan penting yang dapat membantu seseorang bertahan dalam situasi darurat. Tas ini biasanya disiapkan jauh sebelum terjadi bencana dan dapat segera dibawa ketika diperlukan, misalnya saat evakuasi akibat erupsi gunung berapi, gempa bumi, atau bencana lainnya.
Konsep survival bag sebenarnya sederhana, yaitu menyediakan kebutuhan dasar agar seseorang dapat bertahan selama beberapa waktu ketika akses terhadap fasilitas normal terganggu.
Di wilayah yang berada di sekitar gunung berapi aktif, kesiapsiagaan seperti ini menjadi sangat penting. Ketika aktivitas vulkanik meningkat, masyarakat sering kali harus bersiap menghadapi kemungkinan evakuasi mendadak atau perubahan kondisi lingkungan. Dengan menyiapkan survival bag, proses evakuasi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan terencana.
Baca Juga: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Dia Perbedaan Ice Cream, Gelato, Sorbet, dan Parfait
Apa Saja Isi Survival Bag?
Dalam berbagai panduan kebencanaan, survival bag biasanya berisi perlengkapan dasar yang dapat membantu seseorang bertahan setidaknya selama beberapa hari selama proses evakuasi berlangsung. Beberapa perlengkapan yang disarankan antara lain:
- Dokumen penting
Salinan identitas diri seperti KTP, kartu keluarga, serta dokumen penting lainnya sebaiknya disimpan dalam plastik atau wadah kedap air. Hal ini penting untuk memudahkan proses identifikasi maupun administrasi jika harus mengungsi ke tempat evakuasi.
- Perlengkapan kesehatan
Kotak P3K berisi plester, antiseptik, perban, serta obat-obatan pribadi perlu disiapkan untuk mengantisipasi cedera ringan atau kondisi kesehatan yang membutuhkan penanganan cepat.
- Sumber cahaya dan alat komunikasi
Senter atau lampu kecil dengan baterai cadangan dapat membantu saat kondisi listrik tidak tersedia. Radio portabel atau power bank juga berguna untuk memastikan seseorang tetap dapat memperoleh informasi penting selama situasi darurat.
- Makanan darurat
Makanan yang praktis dan tahan lama seperti makanan kaleng, biskuit, atau energy bar dapat membantu menjaga asupan energi selama masa evakuasi. Pilih makanan yang mudah dikonsumsi tanpa perlu proses memasak.
- Pakaian tambahan
Jaket, pakaian ganti, atau selimut ringan dapat membantu menjaga suhu tubuh, terutama jika harus berada di tempat pengungsian dengan fasilitas terbatas.
Baca Juga: Rumah Baru Tanpa Toren Air, Hemat Biaya atau Justru Berisiko?
Kesiapsiagaan Dimulai dari Hal Sederhana
Survival bag pada dasarnya disiapkan untuk satu tujuan, memastikan seseorang tetap memiliki kebutuhan dasar ketika kondisi darurat terjadi. Dengan tas tersebut, proses evakuasi bisa dilakukan lebih cepat karena perlengkapan penting sudah siap dibawa kapan saja.
Prinsip kesiapsiagaan seperti ini sebenarnya tidak hanya berlaku saat menghadapi bencana alam seperti erupsi gunung berapi. Dalam kehidupan sehari-hari di rumah, kesiapan menghadapi kondisi darurat juga dapat dimulai dari hal yang sederhana, salah satunya adalah dengan memastikan ketersediaan cadangan air bersih.
Ketika terjadi gangguan distribusi air, pemadaman listrik pada pompa air, atau kondisi darurat lainnya, cadangan air yang tersimpan dengan baik menjadi sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
Karena itu, memiliki tangki air di rumah juga dapat dilihat sebagai bagian dari kesiapsiagaan. Sama seperti survival bag yang disiapkan untuk menghadapi situasi tak terduga, tangki air juga membantu memastikan kebutuhan air tetap tersedia saat dibutuhkan.
Seperti tandon atau tangki air MPOIN yang dilengkapi dengan lapisan antimicrobial, anti lumut dan anti-UV sehingga kualitas air tetap higienis dan aman digunakan. Struktur materialnya juga dirancang 10 x lebih kuat, sehingga mampu memberikan perlindungan yang lebih baik bagi cadangan air di rumah. Tangki air MPOIN juga dilengkapi garansi hingga 50 tahun, sehingga memberikan rasa aman bagi keluarga dalam menjaga ketersediaan air bersih.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan tidak selalu dimulai dari hal besar. Terkadang, kesiapsiagaan justru berasal dari langkah sederhana seperti menyiapkan survival bag untuk kondisi darurat atau memastikan cadangan air di rumah tersimpan dengan aman.
Baca Juga: 6 Kue Kering Lebaran yang Selalu Dirindukan Saat Idulfitri
